JURNALSIBER
BANGKA BARAT — Polemik aktivitas penambangan timah oleh masyarakat di areal Hak Guna Usaha (HGU) PT BPL di Bangka Barat memasuki babak baru setelah audiensi yang melibatkan perwakilan masyarakat, perusahaan, dan Forkopimda berakhir tanpa kesepakatan final, pada Selasa (28/10).
Dalam pertemuan tersebut, dua nama yang dikenal vokal mewakili aspirasi penambang rakyat, Pak Ruslan dan Acai, menjadi juru bicara utama yang menyampaikan tuntutan dan kondisi riil di lapangan.
Tuntut Solusi Jangka Panjang
Pak Ruslan, salah satu perwakilan masyarakat yang hadir, menekankan bahwa masyarakat yang selama ini bergantung pada penambangan timah di wilayah tersebut membutuhkan solusi jangka panjang yang tidak hanya menghentikan aktivitas, namun juga menjamin kelangsungan hidup mereka.

“Kami datang bukan untuk menantang, tapi meminta kejelasan nasib. Kami hanya ingin menambang untuk makan, dan kami siap diatur sesuai prosedur asalkan ada legalitas dan kepastian wilayah usaha,” ujar Pak Ruslan usai pertemuan.

Sementara itu, Acai, perwakilan lainnya, menyoroti kebuntuan dalam proses audiensi yang berujung pada keputusan sebagian besar masyarakat untuk tetap melanjutkan kegiatan menambang di lokasi yang mereka anggap sebagai sumber penghidupan terakhir.
Audiensi Tanpa Titik Temu
Pertemuan yang digelar di Kantor Bupati Bangka Barat tersebut melibatkan ratusan warga dari desa-desa terdampak, yang menuntut agar Pemerintah Daerah dapat memfasilitasi izin tambang rakyat di sebagian lahan HGU PT BPL, serta menagih realisasi kebun plasma dan transparansi Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.
Meskipun perwakilan pemerintah dan pihak perusahaan telah menyampaikan pandangan mereka, Acai menyampaikan kekecewaannya karena belum ada keputusan konkret yang menjamin alokasi wilayah menambang resmi bagi masyarakat.
“Hasilnya masih buntu. Kami sudah sampaikan kondisi kami, dan kami berharap besok ada kebijakan tegas dari Pemda agar kami bisa menambang dengan tenang,” tegas Acai.
Kepala daerah setempat berjanji akan segera menindaklanjuti tuntutan masyarakat dan mencari jalan tengah terbaik yang menguntungkan semua pihak. Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar lokasi penambangan dikabarkan masih kondusif namun dipenuhi ketidakpastian.






