http://JURNALSIBER.COM (Bangka Tengah) , —Saya hanyalah manusia biasa. Bukan pejabat, bukan orang besar, dan bukan pula seseorang yang memiliki kekuasaan. Namun dalam perjalanan hidup ini, saya percaya bahwa setiap orang memiliki jalan perjuangannya masing-masing.
Dan jalan yang saya pilih adalah berdiri di tengah masyarakat, bekerja untuk kepentingan publik, serta bertanggung jawab kepada publik.

Bagi saya, masyarakat bukan sekadar objek yang hanya dilihat dan didengar sesaat. Mereka adalah denyut kehidupan yang harus diperjuangkan suaranya. Ketika ada rakyat kecil yang merasa diperlakukan tidak adil, ketika ada hak masyarakat yang terabaikan, ketika ada suara-suara yang tak mampu menembus ruang kekuasaan, di situlah hati saya tergerak untuk hadir menjadi penyambung suara mereka.
Saya memahami bahwa jalan ini bukan jalan yang mudah. Menjadi orang yang berdiri di tengah kepentingan publik sering kali menghadapkan kita pada tekanan, kritik, bahkan tantangan yang tidak ringan.
Namun saya percaya, selama niat kita tulus untuk membantu masyarakat, maka setiap langkah perjuangan akan selalu memiliki arti dan nilai kemanusiaan.
Perjalanan hidup membawa saya bergabung bersama KBO Babel. Di tempat inilah saya mulai memahami makna sesungguhnya dari dunia jurnalistik.
Saya belajar bahwa wartawan bukan hanya sekadar profesi yang menulis berita lalu selesai. Wartawan adalah amanah. Wartawan adalah mata dan telinga masyarakat. Wartawan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan publik serta menyampaikan fakta dengan jujur dan berimbang.
Saya merasa beruntung dipertemukan dengan sosok pimpinan yang tidak hanya mengajarkan pekerjaan, tetapi juga memberikan pelajaran hidup. Di bawah kepemimpinan Rikky Fermana Permana, saya belajar tentang keteguhan, kesabaran, keberanian, dan bagaimana menghadapi masyarakat dengan hati nurani.
Beliau mengajarkan bahwa menjaga nama baik profesi wartawan jauh lebih penting daripada sekadar mencari popularitas.
Selain itu, saya juga banyak belajar dari rekan-rekan senior di KBO Babel seperti Muhamad Zen, Rei Ali Amin, Budi, dan Jon Kennedy. Dari mereka saya memahami arti loyalitas, kekompakan, keberanian, dan etika dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Mereka bukan hanya rekan kerja, tetapi juga guru kehidupan yang memberikan banyak pengalaman berharga dalam perjalanan saya.
Di lapangan, saya sering menyaksikan langsung bagaimana beratnya kehidupan masyarakat kecil. Ada yang menangis karena haknya tidak dipenuhi, ada yang kecewa karena merasa tidak didengar, dan ada pula yang hanya berharap agar penderitaan mereka diketahui oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan.
Semua itu membuat saya semakin yakin bahwa pekerjaan ini bukan hanya soal profesi, melainkan soal kemanusiaan dan kepedulian sosial.
Saya sadar, seorang wartawan tidak akan pernah mampu menyenangkan semua pihak. Akan selalu ada kritik, cibiran, bahkan tekanan yang datang ketika kita menyuarakan kebenaran.
Namun saya percaya bahwa kepercayaan masyarakat adalah amanah yang tidak boleh dikhianati. Selama masih diberi kesempatan untuk berjalan di jalan ini, saya ingin tetap berdiri bersama masyarakat kecil dan terus belajar menjadi wartawan yang bisa dipercaya.
Bagi saya, kebahagiaan sejati bukan tentang jabatan ataupun materi. Kebahagiaan hadir ketika saya mampu membantu masyarakat menyampaikan suara mereka, ketika ada rakyat kecil yang merasa diperhatikan, dan ketika kehadiran saya dapat memberi manfaat bagi orang lain. Di situlah saya merasa hidup ini memiliki makna.
Inilah cerita saya. Cerita tentang perjuangan seorang manusia biasa yang mencoba berjalan dengan penuh tanggung jawab di tengah kehidupan masyarakat.
Sebuah perjalanan tentang belajar, pengabdian, dan keberanian untuk tetap berdiri bersama publik.
Karena pada akhirnya, saya bekerja mengatasnamakan publik, dan saya harus bertanggung jawab kepada publik. (Herwandi/KBO BABEL)






