
BANGKA BELITUNG, JurnalSiber — RSUD Depati Bahrin Kabupaten Bangka sedang bersiap melakukan lompatan besar dalam transformasi pelayanan kesehatan sekunder.
Rumah sakit daerah ini menerima kunjungan lapangan strategis skala internasional dari Tim Gabungan Joint Mid-Term Review Mission Kementerian Kesehatan RI bersama perwakilan empat bank donor dunia, yakni Bank Dunia (World Bank), AIIB, ADB, dan ISDB.
Kunjungan ini merupakan bagian dari evaluasi tengah tahun untuk meninjau langsung kesiapan infrastruktur RSUD Depati Bahrin sebagai salah satu faskes penerima alat kesehatan mutakhir melalui proyek strategis nasional Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN).
Delegasi internasional yang terdiri dari 36 orang tersebut melakukan peninjauan fisik ke dua titik krusial.
Pertama, Instalasi Radiologi untuk memastikan kesiapan operasional dan proses commissioning alat pemindaian canggih CT Scan serta fasilitas Cathlab (Laboratorium Kateterisasi Jantung).
Kedua, Instalasi Sanitasi guna memastikan pemenuhan aspek pengelolaan limbah medis dan dampak lingkungan.
Direktur RSUD Depati Bahrin, dr. Yogi Yamani, menegaskan komitmen penuh pihak manajemen dalam menyambut intervensi teknologi medis modern ini.
”Kami sangat terhormat atas kunjungan lapangan dari tim gabungan hari ini. Peninjauan fisik pada fasilitas radiologi dan sanitasi yang baru saja dilakukan memberikan gambaran nyata mengenai komitmen kami di daerah. RSUD Depati Bahrin terus bergerak cepat melakukan langkah-langkah taktis, termasuk akselerasi perizinan BAPETEN dan penguatan tata kelola lingkungan (IPAL), agar alat kesehatan dari proyek SIHREN ini dapat segera dioperasikan secara aman demi memperluas akses pelayanan rujukan bagi masyarakat di Kabupaten Bangka,” ujar dr. Yogi Yamani.
Kehadiran kombinasi teknologi CT Scan (Multi-slice Tingkat Lanjut) dan Cathlab di RSUD Depati Bahrin diproyeksikan membawa dampak penyelamatan nyawa yang besar.
Fasilitas ini dirancang untuk memangkas waktu emas untuk penanganan darurat stroke dan serangan jantung koroner akut, sehingga masyarakat Bangka kini bisa mendapatkan penanganan di tempat tanpa harus membuang waktu kritis untuk dirujuk ke luar daerah atau menyeberang pulau.
Selain meminimalkan risiko medis, integrasi layanan modern ini dengan BPJS Kesehatan dipastikan akan memangkas habis beban finansial keluarga pasien terkait biaya transportasi dan logistik rujukan.
Usai peninjauan lapangan, agenda dilanjutkan dengan sesi pemaparan hasil telusur, review data sarana aplikasi ASPAK, diskusi keselamatan kerja (K3), serta mitigasi isu operasional di Ruang Rapat Utama rumah sakit.
Tim Evaluator Internasional memberikan respons positif dan mengapresiasi kesiapan matang infrastruktur penunjang yang telah disiapkan oleh manajemen RSUD Depati Bahrin.







