MENTOK, BANGKA BARAT – Ibarat pepatah “mati satu tumbuh seribu,” aktivitas tambang timah ilegal di Perairan Tembelok kembali memanas. Meski Sat Polairud Polres Bangka Barat baru saja melakukan penertiban pekan lalu, deru mesin tambang kini kembali meresahkan warga.
Kali ini, sebuah nama mengejutkan muncul ke permukaan: KMR, seorang oknum yang mengaku wartawan, diduga kuat menjadi “beking” utama di balik layar.
Hanya berselang tujuh hari setelah aparat penegak hukum menetapkan tersangka dan menaikkan Laporan Polisi (LP) terkait penambangan tanpa izin di lokasi tersebut, aktivitas ilegal justru kembali menggeliat.
Fenomena ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat: Apakah hukum sedang dipermainkan, atau ada “main mata” di balik riuhnya Tembelok?
Nyanyian Warga:
Sosok KMR Dan *Wartawan Bodrex*
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa keberanian para penambang untuk kembali turun ke laut didalangi oleh jaminan keamanan dari oknum berinisial KMR.
Warga setempat tak segan menyebut KMR sebagai “Wartawan Bodrex”—istilah bagi oknum yang menggunakan kartu pers bukan untuk mencari berita, melainkan untuk memeras atau membentengi bisnis haram.
“Kami heran, baru kemarin ditangkap, sekarang sudah kerja lagi. Nama KMR ini santer disebut-sebut sebagai orang yang menjamin mereka aman dari aparat Dan sudah Kenyang makan Hasil e,” ungkap salah satu warga Insial Fe.
>
Analisis: Ada Udang di Balik Batu?
Kembalinya aktivitas di Tembelok pasca-penertiban menunjukkan adanya ketidakhormatan terhadap supremasi hukum.
Jika seorang oknum media benar-benar terlibat sebagai koordinator atau pelindung tambang ilegal, hal ini tidak hanya mencoreng institusi pers, tetapi juga menantang kredibilitas Polres Bangka Barat.
*Fakta Lapangan Status Saat Ini
*Status Penertiban Sudah dilakukan Minggu lalu oleh Polairud
*Status Hukum Tersangka sudah naik LP
Kondisi Terkini Tambang Ilegal kembali beroperasi penuh ,Dugaan Baru Keterlibatan oknum wartawan (KMR) sebagai beking Tantangan Bagi Aparat,Kini bola panas ada di tangan Polres Bangka Barat.
Masyarakat menanti langkah tegas: Apakah polisi berani menyapu bersih para pemain lama dan oknum “tameng” yang bersembunyi di balik identitas pers? Ataukah Tembelok akan tetap menjadi zona
“kebal hukum” yang dipelihara oleh kepentingan segelintir orang?
Keadilan tidak boleh kalah oleh gertakan kartu pers abal-abal.
(YPH)







