http://JURNALSIBER.COM (YOGYAKARTA) – Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa lagi setengah hati jika ingin menjadikan energi nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional. Kesiapan menyeluruh, mulai dari teknologi hingga penerimaan publik, dinilai menjadi prasyarat mutlak sebelum melangkah lebih jauh.
Pernyataan tersebut disampaikan Bambang saat menjadi pembicara utama dalam UGM Nuclear Readiness Forum 2026 yang digelar oleh Universitas Gadjah Mada, Selasa (22/4). Forum ini menjadi ruang strategis untuk membahas kesiapan Indonesia menghadapi transisi energi global, termasuk peluang pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi masa depan.

Dalam paparannya, Bambang menyoroti tren peningkatan kebutuhan energi nasional yang terus bergerak seiring pertumbuhan ekonomi, ekspansi industri, serta meningkatnya konsumsi listrik masyarakat. Kondisi ini, menurutnya, menuntut Indonesia untuk lebih terbuka terhadap berbagai opsi energi yang efisien, aman, dan berkelanjutan.
Ia menilai energi nuklir memiliki potensi strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Selain mampu menghasilkan listrik dalam skala besar dan stabil, nuklir juga dinilai dapat menjadi solusi dalam menekan emisi karbon, sejalan dengan komitmen global menuju energi bersih.
Namun demikian, Bambang mengingatkan bahwa pengembangan energi nuklir bukanlah proyek yang bisa dijalankan secara instan. Dibutuhkan kajian komprehensif, sistem pengawasan ketat, serta penerapan standar keselamatan internasional yang tinggi untuk memastikan keamanan dan keberlanjutannya.
“Yang terpenting bukan sekadar memiliki teknologi, tetapi bagaimana negara ini benar-benar siap dari semua aspek—kebijakan, SDM, tata kelola, hingga kepercayaan publik,” tegasnya.
Forum tersebut turut dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, peneliti, praktisi energi, hingga perwakilan berbagai lembaga. Diskusi berkembang pada isu-isu krusial, mulai dari dinamika energi global, perkembangan teknologi nuklir dunia, hingga posisi Indonesia dalam merespons kebutuhan energi jangka panjang.
Kehadiran Bambang dalam forum ini mencerminkan dorongan kuat dari parlemen agar arah kebijakan energi nasional disusun secara lebih visioner dan berbasis kajian ilmiah. Politikus asal Kepulauan Bangka Belitung itu menekankan bahwa ketahanan energi tidak bisa dibangun secara parsial, melainkan melalui kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, DPR, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi kunci dalam merumuskan strategi energi yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap tantangan masa depan.
“Indonesia harus berani menatap masa depan energi dengan perencanaan matang, keputusan strategis, dan kerja bersama. Dari situlah kemandirian energi nasional bisa diwujudkan,” pungkasnya. (KBO Babel)






