Anggaran Rp 40 Juta, Misi Besar: Pemkab Bangka Barat Hidupkan Warisan Khitanan Dusun Belar

by -5 views

http://JURNALSIBER.COM (SIMPANG TERITIP, BANGKA BARAT) — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mengalokasikan anggaran sebesar Rp 40.000.000 untuk mendukung pelaksanaan khitanan massal adat di Dusun Belar, Desa Ibul, Minggu (19/04/2026). Dukungan ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat pembangunan kebudayaan sekaligus membuka ruang pengembangan wisata berbasis tradisi lokal.

Bupati Bangka Barat, Markus, menegaskan bahwa tradisi khitanan massal di Dusun Belar bukan sekadar praktik keagamaan, melainkan warisan budaya yang hidup dan memiliki peran penting dalam struktur sosial masyarakat.

Sunat massal pada masyarakat Dusun Belar merupakan adat istiadat turun-temurun yang diselenggarakan setiap tahun. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud ketaatan dalam menjalankan perintah Allah dan rasulnya, yaitu mengkhitankan anak-anak yang telah akil baligh,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang sosial yang memperkuat hubungan antar warga.

Acara ini menjadi sarana untuk menjalin tali silaturahmi antar warga, sekaligus mengenalkan adat istiadat lokal ini kepada masyarakat luas,” lanjutnya.

Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat telah memasukkan tradisi ini dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) 2025–2029 sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan, serta berkomitmen menjadikannya sebagai agenda tahunan yang terintegrasi dengan pengembangan wisata budaya.

Sebagai upaya pelestarian, pemerintah daerah berkomitmen menjadikan adat istiadat di Dusun Belar ini sebagai agenda kebudayaan tahunan di Kabupaten Bangka Barat. Langkah ini diharapkan dapat menunjang sektor wisata budaya serta memperkenalkan potensi daerah,” tegas Markus.

Di balik struktur kebijakan dan angka-angka anggaran itu, Dusun Belar menyimpan denyut yang lebih dalam sesuatu yang tidak tercatat dalam laporan resmi kehidupan tradisi itu sendiri.

Pagi di Belar dimulai dengan air. Anak-anak yang akan dikhitan direndam dalam sebuah ritus yang sederhana, namun sarat makna seolah tubuh mereka diperkenalkan kembali kepada alam sebelum memasuki fase hidup yang baru. Air menjadi saksi, sekaligus pengingat bahwa manusia selalu berangkat dari kesunyian yang sama.

Setelah itu, desa berubah menjadi panggung yang bergerak. Arak-arakan mengalir di sepanjang jalan tanah, diiringi langkah kaki warga yang tidak sekadar hadir, tetapi terlibat. Tidak ada batas tegas antara pelaku dan penonton. Semua menjadi bagian dari cerita.

Di setiap rumah, pintu terbuka. Sedekah dihidangkan tanpa perhitungan. Tawa, doa dan percakapan menyatu dalam ritme yang sulit dipetakan oleh logika modern. Inilah ekonomi paling purba yang tidak berbasis transaksi, tetapi pada kepercayaan dan kebersamaan.

Seorang ibu tampak menggenggam tangan anaknya yang baru saja dikhitan. Genggaman itu sederhana, namun mengandung seluruh narasi tentang masa depan harapan agar anaknya tumbuh dalam nilai, dalam tradisi, dalam identitas yang tidak tercerabut.

Di titik ini, pembangunan menemukan wajah yang berbeda.

Ia tidak hadir dalam bentuk beton atau proyek fisik. Ia hadir dalam bentuk peristiwa dalam ritual yang terus diulang, dalam ingatan yang terus diwariskan. Dan Rp 40 juta yang digelontorkan pemerintah menjadi semacam jembatan kecil antara dunia kebijakan dan dunia tradisi.

Namun jembatan itu tidak bebas risiko.

Ketika tradisi mulai diposisikan sebagai aset wisata, ia perlahan masuk ke dalam logika baru yaitu logika pasar. Setiap prosesi berpotensi menjadi atraksi. Setiap ritual bisa berubah menjadi tontonan. Setiap makna berisiko direduksi menjadi nilai jual.

Dusun Belar kini berdiri di batas yang tipis antara pelestarian dan komodifikasi.

Pemerintah melihat peluang wisata budaya yang tumbuh dari keaslian lokal. Masyarakat, di sisi lain, menjaga sesuatu yang lebih mendasar berupa makna.

Pertanyaannya tidak lagi sekadar tentang apakah Rp 40 juta cukup. Tetapi apakah pembangunan ini mampu menjaga keseimbangan antara keduanya yaitu antara nilai dan ekonomi, antara tradisi dan industri.

Di Dusun Belar, jawabannya belum sepenuhnya jelas.

Namun untuk saat ini, tradisi masih berjalan dengan caranya sendiri. Anak-anak tetap diarak, doa tetap dilantunkan dan sedekah tetap dibagikan tanpa pamrih.

Dan di tengah semua itu, negara hadir tidak untuk menggantikan, tetapi untuk menguatkan.

Di hari itu, di Dusun Belar, pembangunan tidak sedang dibangun. Ia sedang dijalani. Dalam langkah kecil, dalam ritus sederhana, dalam keyakinan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu melainkan jalan menuju masa depan.(KBO BABEL) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.