Bioskop Hebe–Banteng: Jejak Perfilman Pangkalpinang Sejak 1917 yang Kini Tinggal Kenangan.

by -5 views

http://JURNALSIBER.COM (PANGKALPINANG)Di tengah pesatnya perkembangan Kota Pangkalpinang, tidak banyak yang mengetahui bahwa kota ini pernah memiliki salah satu bangunan bioskop tertua di Indonesia.

Bangunan tersebut adalah Bioskop Hebe, yang kemudian lebih dikenal masyarakat sebagai Bioskop Banteng, sebuah gedung bersejarah yang berdiri sejak tahun 1917 dan menjadi bagian penting dari perjalanan sosial, budaya, serta perfilman di Pulau Bangka.

Caption : Foto bioskop Hebe/banteng legendaris.(net)

Berdasarkan catatan sejarah, bangunan ini awalnya bukan didirikan sebagai bioskop. Gedung tersebut dibangun sebagai tempat pertemuan masyarakat Tionghoa perantauan yang menetap di Pangkalpinang.

Tahun pendiriannya diketahui dari inskripsi atau tulisan beraksara Tionghoa yang terpasang pada bagian atas bangunan. Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kebutuhan hiburan masyarakat, gedung itu kemudian dialihfungsikan menjadi bioskop dengan nama Hebe.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, nama Bioskop Hebe berubah menjadi Bioskop Banteng, menyesuaikan semangat nasionalisme yang berkembang saat itu. Meski berganti nama, fungsi utamanya tetap sebagai pusat hiburan masyarakat yang menayangkan berbagai film dan menjadi tempat berkumpul warga Pangkalpinang lintas generasi.

Saksi Pertumbuhan Kota Pangkalpinang

Keberadaan Bioskop Hebe–Banteng tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Pangkalpinang sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di Bangka.

Setelah Pangkalpinang ditetapkan sebagai ibu kota Keresidenan Bangka pada tahun 1913, berbagai bangunan penting mulai bermunculan, termasuk sekolah, rumah pejabat kolonial, pusat perdagangan, hingga sarana hiburan seperti bioskop.

Saat itu, bioskop bukan sekadar tempat menonton film. Kehadirannya menjadi simbol modernisasi kota dan ruang interaksi sosial masyarakat dari berbagai latar belakang etnis. Bioskop Hebe menjadi salah satu pusat hiburan paling bergengsi pada masanya dan ikut memperkenalkan budaya perfilman kepada masyarakat Bangka.

Arsitektur dan Nilai Budaya

Bangunan Bioskop Banteng memiliki ciri arsitektur yang unik karena memadukan fungsi hiburan modern dengan ornamen budaya Tionghoa. Jejak fungsi bioskop masih terlihat dari desain loket tiket, pintu masuk dan keluar penonton, serta berbagai elemen bangunan yang dirancang khusus untuk kegiatan pemutaran film.

Di sisi lain, ornamen khas Tionghoa tetap dipertahankan pada bagian atas bangunan sebagai penanda asal-usul gedung tersebut.

Nilai sejarah dan keunikan arsitekturnya membuat bangunan ini kemudian ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Banyak kalangan budayawan dan pemerhati sejarah menilai Bioskop Hebe–Banteng sebagai salah satu peninggalan penting yang merekam perjalanan sosial masyarakat Pangkalpinang selama lebih dari sembilan dekade.

Caption : foto pembongkaran bioskop Hebe/ Banteng. (Net)

Berakhirnya Sebuah Ikon Kota

Setelah puluhan tahun beroperasi, Bioskop Banteng berhenti difungsikan sebagai bioskop pada tahun 1988. Bangunan yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Pangkalpinang itu kemudian memasuki masa-masa sulit akibat perubahan pola hiburan masyarakat dan perkembangan kota yang semakin pesat.

Pada 2010, bangunan bersejarah tersebut akhirnya dibongkar dalam proses pembangunan kawasan perdagangan modern. Keputusan itu memunculkan perdebatan dan penolakan dari berbagai kalangan pemerhati sejarah dan pelestari budaya karena bangunan tersebut telah masuk dalam kategori benda cagar budaya.

Kini, lokasi yang dahulu menjadi tempat berdirinya Bioskop Hebe–Banteng telah berubah menjadi kawasan perdagangan modern dan hanya menyisakan dokumentasi serta kenangan bagi masyarakat Pangkalpinang.

Warisan yang Tak Boleh Dilupakan

Meski fisiknya telah hilang, nama Bioskop Hebe–Banteng tetap tercatat dalam sejarah Kota Pangkalpinang sebagai salah satu pelopor dunia perfilman di Bangka Belitung. Bangunan yang berdiri sejak 1917 itu menjadi bukti bahwa Pangkalpinang telah mengenal hiburan modern dan kehidupan budaya yang dinamis jauh sebelum Indonesia merdeka.

Keberadaan Bioskop Hebe–Banteng mengajarkan pentingnya menjaga warisan sejarah sebagai identitas kota. Sebab, di balik dinding-dinding tua yang kini telah tiada, tersimpan kisah tentang perjumpaan budaya, perkembangan masyarakat, dan perjalanan panjang Pangkalpinang menuju kota modern seperti yang dikenal saat ini. (Budi/JS) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.