http://JURNALSIBER.COM *(PANGKALPINANG) * — Kabar duka menyelimuti masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Salah satu tokoh masyarakat yang dikenal luas atas dedikasi dan kepeduliannya terhadap berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, *Akhmad Samsi alias Abi Acik bin M. Sahil*, meninggal dunia pada usia 62 tahun.
Ketua Front Jaga Babel (FJB) tersebut menghembuskan napas terakhir di RSUD Depati Hamzah Kota Pangkalpinang pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 15.34 WIB, setelah menjalani perawatan intensif di ruang ICU.

Kepergian Abi Acik meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, rekan perjuangan, serta masyarakat Bangka Belitung yang selama ini mengenalnya sebagai sosok yang sederhana, bersahaja, dan memiliki komitmen kuat dalam memperjuangkan kepentingan daerah.
Sebelumnya, kondisi kesehatan almarhum dikabarkan menurun. Pada Kamis (4/6/2026) malam, beliau dilarikan ke RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang untuk mendapatkan penanganan medis. Meski tim medis telah memberikan perawatan terbaik, Allah SWT berkehendak lain dan memanggil beliau kembali ke hadirat-Nya.
*”Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”*
Saat ini, jenazah disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Jalan Gandaria I, Perumahan Puri Kencana Indah Blok A1, Kelurahan Air Kepala Tujuh, Kecamatan Gerunggang, Kota Pangkalpinang.
Menurut informasi keluarga, almarhum rencananya akan dishalatkan di Masjid Istiqlal Gandaria sebelum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Taman Bahagia Air Kepala Tujuh. Namun, jadwal pemakaman masih menunggu kedatangan anak-anak almarhum yang saat ini berada di luar Pulau Bangka.
Bagi masyarakat Bangka Belitung, Abi Acik bukan sekadar tokoh organisasi. Ia dikenal sebagai pribadi yang hangat, mudah bergaul, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap persoalan ukhuwah Islamiyah, sosial, serta kehidupan bermasyarakat. Melalui Front Jaga Babel yang dipimpinnya, almarhum aktif menyuarakan berbagai aspirasi masyarakat dan kerap terlibat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan menjaga kebersamaan serta kepentingan daerah.
Kehadirannya selama ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat Bangka Belitung. Pemikiran, perhatian, dan kontribusinya dalam berbagai persoalan daerah menjadikan Abi Acik sosok yang dihormati dan dicintai banyak kalangan.
Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi Bangka Belitung. Namun, jejak pengabdian dan keteladanan yang telah ditinggalkannya akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan khilaf almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini.
*Selamat jalan, Abi Acik. Jasa, pemikiran, dan pengabdianmu untuk Bangka Belitung akan selalu dikenang.* (KBO Babel)







