http://JURNALSIBER.COM (TEMPILANG, BANGKA BARAT) — Di sebuah garis pantai yang dulu dikenal karena keindahan dan suara pengunjung wisata, kini suara yang paling dominan bukan lagi ombak, melainkan deru mesin. Di Pantai Pasir Kuning, laut seperti sedang dipaksa berbicara dalam bahasa yang bukan miliknya: bising, tergesa, dan penuh kepentingan.
Selasa (14/04/2026), sidak pemerintah daerah datang seperti adegan yang berulang dalam drama panjang pengelolaan sumber daya di pesisir. Ada Wakil Bupati, ada Forkopimda, ada aparat. Namun di antara semua itu, satu suara yang paling jujur justru datang dari mereka yang selama ini jarang diberi panggung: nelayan.
Baidi, Koordinator Nelayan Desa Air Lintang dan Desa Benteng Kota, tidak membawa data statistik, tidak pula grafik kerusakan lingkungan. Ia hanya membawa sesuatu yang lebih sulit diperdebatkan yaitu pengalaman hidup.

“Kami sudah sepakat sejak awal, wilayah Air Lintang tidak boleh ada aktivitas tambang, termasuk transportasinya. Tapi sekarang, justru semakin ramai,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan satu ironi besar kesepakatan dibuat untuk dilanggar secara perlahan, bukan secara frontal. Seolah-olah hukum di pesisir bekerja seperti air laut mengikuti arus, bukan menetapkan arah.
Secara geografis, laut tidak pernah benar-benar berkurang. Namun bagi nelayan Tempilang, ruang tangkap mereka menyusut setiap hari. Bukan karena garis pantai mundur, melainkan karena ruang itu direbut oleh aktivitas yang tidak pernah mereka undang.
Speedboat melintas cepat, membawa hasil tambang yang tidak pernah mereka nikmati. Perahu-perahu kecil yang disebut sepit bergerak seperti urat nadi ekonomi baru. Ekonomi yang tidak menyertakan nelayan sebagai bagian darinya. Di pesisir, kem-kem berdiri seperti penanda bahwa wilayah ini telah berubah fungsi dari ruang hidup menjadi ruang produksi.
Baidi tidak berbicara tentang konflik ruang dalam istilah akademik. Ia menunjukkannya lewat jaring yang rusak.
“Jaring kepiting kami sering kena. Jaring tebak juga terganggu. Mereka lewat begitu saja,” katanya.
Di balik kerusakan itu, ada hitungan yang tidak pernah masuk dalam laporan resmi telah berapa hari nelayan tidak bisa melaut, berapa rupiah yang hilang dan berapa keluarga yang harus berutang untuk bertahan.
Dalam narasi besar pembangunan, tambang sering diposisikan sebagai mesin ekonomi. Ia menciptakan perputaran uang, membuka lapangan kerja dan setidaknya di atas kertas mendorong pertumbuhan.
Namun di Tempilang, pertumbuhan itu tampak seperti janji yang salah alamat.
Nelayan menanggung risiko tanpa pernah benar-benar menikmati hasil. Mereka menghadapi laut yang semakin keruh, jalur tangkap yang semakin sempit dan ancaman keselamatan yang semakin nyata. Sementara itu, keuntungan bergerak ke arah yang tidak kasat mata untuk keluar dari kampung, mengikuti arus distribusi yang lebih besar.
“Kalau memang harus ada tambang, arahkan ke satu pintu di Benteng Kota. Itu sudah disepakati,” tegas Baidi.
Permintaan itu bukan bentuk penolakan total. Ia sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan keseimbangan yang sudah lama retak. Namun seperti banyak hal di pesisir, keseimbangan itu tampaknya kalah cepat dibanding laju mesin tambang.
Pantai Pasir Kuning pernah dibayangkan sebagai alternatif masa depan. Ketika laut tidak lagi cukup memberi, pariwisata diharapkan menjadi jalan keluar. Namun harapan itu kini seperti ditanam di tanah yang salah.
Bagaimana mungkin wisata tumbuh di tengah kebisingan industri?
Kem-kem tambang berdiri di garis pantai. Air laut berubah warna. Lalu lintas kapal menciptakan suasana yang lebih dekat dengan kawasan kerja daripada tempat rekreasi.
“Siapa yang mau datang kalau pantainya seperti ini?” tanya Baidi.
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Ia sudah cukup menjadi kritik.
Sidak hari itu mungkin menghasilkan catatan. Mungkin juga rekomendasi. Namun bagi nelayan, pengalaman mengajarkan bahwa antara catatan dan perubahan, ada jarak yang sering kali tidak terjembatani.
Pemerintah datang, melihat, lalu pergi. Aktivitas tambang berhenti sejenak, lalu kembali berjalan. Siklus ini berulang, seperti ombak. Bedanya, ombak membawa kehidupan, sementara siklus ini justru mengikisnya.
“Harapan kami jelas, tidak ada lagi aktivitas tambang di wilayah kami,” ujar Baidi.
Nada suaranya datar, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak lagi berbicara dengan kemarahan, melainkan dengan kelelahan yang telah lama dipendam.
Di tengah narasi besar tentang pembangunan, nelayan sering diposisikan sebagai kelompok yang harus beradaptasi. Mereka diminta untuk berubah, untuk mencari alternatif, untuk tidak bergantung pada laut.
Namun yang jarang ditanyakan mengapa mereka yang harus berubah, sementara kerusakan justru datang dari luar?
Baidi, dengan segala keterbatasannya, sedang menjaga sesuatu yang lebih besar dari sekadar mata pencaharian. Ia menjaga batas. Batas antara laut yang masih bisa memberi dan laut yang hanya akan meninggalkan jejak kerusakan.
Di Pantai Pasir Kuning, batas itu kini semakin kabur.
Jika suatu hari nanti laut benar-benar kehilangan suaranya, mungkin yang tersisa hanyalah cerita tentang bagaimana nelayan sudah berteriak sejak lama, tetapi tidak pernah benar-benar didengar.(KBO BABEL)








